Wednesday, 23 November 2016

SYUKUR ITU BERGERAK


بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
Maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa: "Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.” [An Naml: l19]

Memasuki pembicaraan mengenai syukur, marilah kita awali dengan doa dari Nabi Sulaiman tersebut. Beliau adalah nabi yang dikaruniai kemampuan unik dalam memahami bahasa percakapan hewan. Sebagai seorang nabi, ia pun tidak ingin dirinya lalai untuk bersyukur akan segala nikmat dan karunia yang ada pada dirinya. Oleh Karena itu, Nabi Sulaiman pun berdoa, memohon ilham agar ditetapkan hatinya agar senantiasa bersyukur.

Barangkali di antara hati kita pun masih bertanya-tanya, bagaimana seharusnya kita bersyukur? Seakan bersyukur itu sulit. Tidak jarang pula kita memandang bahwa rumput tetangga memang selalu lebih hijau daripada rumput sendiri. Kita masih saja merasa kurang. Padahal, apa yang kita miliki sudah lebih dari cukup. Rasa syukur terasa jauh, seakan harus didahului ilham terlebih dahulu agar kita bisa bersyukur. 

Apa sejatinya makna ‘syukur’? Satu kata yang singkat, namun kekuatannya mampu mengubah sesuatu hal yang sederhana menjadi lebih bermakna. Ia adalah sebuah perasaan yang mampu mengubah hati yang sedih menjadi lebih lapang-bahagia; mengajak jiwa-jiwa yang lemah menjadi lebih optimis, percaya diri, dan mempunyai karakter. Syukur adalah aspek psikologis yang akan membuat hidup kita menjadi lebih indah.

Sederhananya, syukur adalah menerima, ridha, dan ikhlas. Kata ini berasal dari bahasa Arab, yakni syakara, yasykuru, syukron, yang berarti ‘berterima kasih’; ‘memuji’. Jika dikaji dalam bidang studi bahasa, kata “syukur” termasuk ke dalam jenis kata kerja atau verb atau dalam bahasa Arab fi’il. Dimensi makna kata kerja adalah dinamis. Akan tetapi, seringkali kita menggeser makna syukur menjadi pasif.

Begitu pula dengan dua aspek psikologi lainnya yang memiliki hubungan dekat: sabar dan ikhlas. Syukur, sabar, dan ikhlas sejatinya memiliki dimensi makna yang dinamis. Akan tetapi, seringkali pemaknaan kita—barangkali juga salah—tidak demikian. Pemahaman sepintas, kita memaknai kata “syukur”, begitu pula dengan “sabar”, dan “ikhlas” hanya sebatas ‘menerima’, ‘ridha’, dan ‘pasrah’, bahkan minim usaha. Inilah pemaknaan yang sebenarnya kurang tepat. Anugerah yang kita miliki: keluarga, kesehatan fisik, rizki, keterampilan, bahkan ujian masalah dan cobaan hidup, semuanya butuh kita syukuri. Namun, bukan berarti bersyukur dalam arti pasif, hanya ‘menerima’ dan ‘ikhlas’, tanpa mau untuk memaksimalkan potensi yang ada. Bahkan seringkali kita malah mengeluh, bermalas-malasan, terhadap berbagai problematika hidup yang kita hadapi.

Sejatinya, konsep syukur bisa kita pandang dari sisi lain yang lebih implementatif. M. Quraish Shihab dalam Susanto (2012) menyatakan bahwa syukur meliputi tiga komponen[1]. Pertama, syukur dalam hati dengan merasa puas secara batin atas anugerah yang diterima. Kedua, syukur melalui lisan dengan mengakui anugerah dan memuji pemberinya. Dan ketiga, syukur perbuatan, yaitu dengan memanfaatkan anugerah yang diperoleh sesuai dengan tujuan penganugerahannya.

Dalam hal ini, menurut saya konsep syukur bisa dirangkum menjadi satu kata yang padat: bergerak. Syukur adalah menggerakan hati untuk bisa ridha dan menerima dengan ikhlas. Syukur menggerakkan lisan agar senantiasa berkata benar dan jujur. Dan terakhir, syukur adalah menggerakkan hati, pikiran, dan perbuatan untuk senantiasa berusaha memaksimalkan potensi yang ada. Syukur adalah bergerak, menggerakan hati, pikiran, dan amal sholeh kita. Amal ini juga berarrti usaha maksimal yang dilakukan melalui jalan yang benar.

Memang mudah bagi kita untuk merasa bersyukur ketika mendapat nikmat. Namun, ketika mendapat kesulitan atau musibah, kita menjadi lalai untuk bersyukur. Guru saya pernah menasihatkan bahwa “melihat ke atas” itu perlu, tapi juga tidak boleh dengan “yang di bawah”. Contoh mudahnya, bagi kita yang sedang naik mobil murahan, tidak perlu merasa iri dengan orang-orang yang memiliki mobil yang mahal dan mewah. Bersyukurlah karena di bawah kita masih ada orang yang hanya memiliki sepeda motor. Bagi yang memiliki sepeda motor juga bersyukur karena masih ada orang yang hanya memiliki sepeda onthel. Begitu pula orang yang memiliki sepeda onthel harus bersyukur karena masih ada orang yang hanya bisa berjalan kaki, dan seterusnya.

Bagi kita yang sedang dirudung masalah “cinta” juga harus bersyukur. Hati dan pikiran adalah amanah dari Allah SWT yang harus dijaga. Tidaklah pantas bagi kita untuk merasa kecewa, apalagi membenci orang. Bersyukurlah karena masih ada orang-orang di sekitar kita, keluarga, saudara, sahabat, yang perhatian dan sayang kepada kita. Lika liku kehidupan sosial memang menyisakan cerita-cerita yang menarik, baik suka maupun duka. Hal ini memang harus kita sadari betul bahwa masing-masing orang yang kita temui memiliki karakter dan arah tujuannya masing-masing. Baik cerita suka maupun duka harus kita syukuri. Karena dengan bersyukur, kita akan mendapatkan kekuatan hikmah dari masalah yang kita hadapi, yakni sadar akan diri sendiri dan orang lain.

Syukur merupakan salah satu aspek psikologis manusia yang diperintahkan Allah SWT agar mereka hidup bahagia. Syukur akan mengarahkan jiwa-jiwa manusia ke jalan yang benar. Mental akan menjadi kuat. Hati dan pikiran pun menjadi seimbang. Barang siapa bersyukur, niscaya hati akan menjadi damai, tenteram, dan bahagia. Begitu pula sebaliknya, barang siapa kufur, hidup menjadi terasa sulit, susah, bahkan sengsara. Ini adalah janji Allah SWT, termaktub dalam kitab suci Al-Quran (QS. Ibrahim [14]: 7).

Kekuatan syukur tidak bisa diraih apabila kita tidak bergerak. Bersyukur itu dinamis, menggerakan hati, jiwa, dan pikiran yang sebelumnya lesu tak bersemangat menjadi lebih optimis dan percaya diri. Apapun pekerjaannya, rasa syukur akan meringankan beban kerja kita. Karena dengan bersyukur, orientasi bekerja menjadi tidak hanya sekadar berkerja, tetapi berkarya.

Tubuh kita, seluruh jiwa dan raga manusia adalah amanah dari Allah SWT. Seluruh sistem di dalam tubuh bekerja dengan sangat sempurna tanpa kita perintah, juga tidak kita sadari. Nikmat-nikmat-Nya senantiasa mengalir, tanpa kita minta, bahkan saat kita berpaling sekalipun. Oleh karena itu, apapun keluhan kita, tidaklah pantas tubuh dan jiwa ini dipakai untuk mengeluh, kecewa, apalagi membenci orang. “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang dustakan?” (QS. Ar-Rahmah: 13). Bersyukur dan bergeraklah, karena misi hidup kita dunia adalah untuk kembali pada Allah SWT.


[1] Agus Susanto, 2012, Islam Itu Sangat Ilmiah, (Divapress: Jogjakarta) hlm. 112
 
Esai Seminar Psikologi Islam FK UNS 2016
Subtema: Implementasi hakikat syukur dalam menemukan makna hidup

Friday, 3 July 2015

Hikmah Ramadhan

Berbicara mengenai berkah ramadhan memang tidak ada habisnya. Setiap hari, dari hari sebelum sampai sesudah ramadhan, kita temui banyak orang mempersiapkan segala sesuatunya demi menjalani bulan penuh berkah ini. Budayanya pun berganti penuh nuansa Islam.Para wanita yang sebelumnya tidak berjilbab, sekarang berubah menjadi tertutup. Banyak pemuda yang sebelumnya jangan pergi ke masjid, sekarang menjadi rajin sholat berjama'ah di masjid. Al-qur'an yang sebelumnya tertata rapi di rak, sekarang dibaca setiap hari. Banyak anak-anak fakir dan miskin yang sebelumnya tidak sering tidak diperhatikan, sekarang disantuni dengan banyaknya program ramadhan berbagai dan baksos. Sudah menjadi kewajaran bagi kita semua bahwa hal demikian akan berlaku pada hari-hari awal ramadhan. Awalnya sangat rajin. Tetapi, dipertengahan akan kembali normal seperti hari biasa di luar ramadhan. (next...pending)

Monday, 2 February 2015

Berpikir Kritis atau Sinis?


Seorang tokoh dunia pencetus sistem demokrasi ala barat, yaitu Jacque Rousseau, telah membuat Indonesia lahir dari keturunan Rahim Demokrasi. Bukanlah sebuah keuntungan sekaligus kerugian bagi kita, tetapi mungkin ini adalah konseskuensi dari corak kehidupan masyarakat Indonesia—terdiri atas beragam budaya, etnis, dan suku bangsa yang terangkai dalam bingkai multikulturalisme.
Inilah kehidupan demokrasi di Indonesia yang telah membuat konstitusi kita memberikan perlindungan kebebasan berpikir bagi setiap warga negaranya untuk berserikat, berkumpul, dan menyatakan pendapat di muka umum. Kebebasan yang membuat orang lepas dari belenggu kebodohan. Inilah negara demokrasi yang memberikan wewenang otoritatif rakyatnya dengan kebebasan berpikir dan menyatakan pendapat baik dalam bentuk lisan maupun tertulis.  
Mahasiswa sebagai agen intelektual tak luput dalam kebebasan berpikir ini. Kebebasan berpikir yang sering disebut sebagai pemikiran kognitif tingkat tinggi (high level cognitive)—melahirkan suatu sistem pemikiran yang mendalam dan menyeluruh: berpikir kritis. Pemikiran yang membuat mahasiswa berlomba mencapai taraf “kritis” ini, biasa dilakukan dengan banyak bertanya mengenai materi yang diberikan dosen, berdiskusi dengan kelompok organisasinya, dan bahkan ramai-ramai mengkritik kebijakan politik kampus yang kurang efektif hingga kebijakan pemerintah yang kurang menguntungkan.
Sebagai contoh permasalah sistem Uang Kuliah Tunggal (UKT) di kampus saya juga sering menjadi perhatian kritis para mahasiswa. Pembayaran yang dinilai cukup tinggi dan kurang jelasnya informasi mengenai sistem ini dipandang tidak reasonable dan kadang melebihi biaya di kampus lain. Hal ini juga yang membuat Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) melakukan asksi di depan rektorat pada hari Kamis lalu (17/11).
Permasalahan ini hanyalah salah satu contoh kecil dari berpikir kritis tingkat mahasiswa yang telah meninggalkan tata pemikiran lamanya yang dogmatis. Tidak seperti siswa tingkat SMP atau SMA yang menerima apa adanya ketentuan yang harus dibayarkan setiap bulannya.
Sebagai mahasiswa memang dituntut untuk berpikir kritis dengan berbagai persoalan yang dihadapi. Namun, berpikir kritis saja tidak cukup, agar tidak berlebihan dan menyimpang menjadi budaya sinisme—perlu memperhatikan pada hakikat manusia yang selalu berpikir secara kreatif. Dalam bukunya, Sudarma (2013) memberikan pengertian bahwa manusia pada hakikatnya adalah manusia yang kreatif. Berpikir  kreatif tidak terlepas kaitannya dengan ide kreatif yang dijelaskan sebagai ide yang mampu memberikan pencerahan dan pengertian kepada orang lain.
Pada hakikatnya berpikir merupakan konkordan dari berfilsafat. Filsafat adalah suatu ilmu, meskipun bukan ilmu yang biasa, berusaha untuk menyelidiki hakikat segala sesuatu untuk memperoleh kebenaran (Solihin, 2007). Di dalamnya, Katsoff (1963) juga menjelaskan tentang konsep filsafat ini yang sebenarnya juga merupakan berpikir secara kritis, sistematis, dan komprehensif.
Bukan kritis, tetapi sinis
Di kampus saya, setiap kali saya berangkat pagi dari gerbang belakang sebelah barat, tak pernah absen saya melihat dinding tembok yang memuat banyak sekali ideologi baru dari berbagai pandangan yang dibawa para pemuda dan mahasiswa. Mungkin dengan isu kenaikan BBM kemarin banyak yang mengatakan bahwa kebijakan tersebut merupakan kebijakan yang mungkar, zalim dan khianat. Kebijakan yang diberlakukan sejak tanggal 18 November lalu sontak mendapat kecaman dan penolakan dari berbagai kalangan, baik mahasiswa, masyarakat umum, ormas, maupun kaum buruh.
Berbagai bentuk penolakan dilakukan baik dalam bentuk demonstrasi langsung, maupun tertulis melalui media massa. Tidak hanya masyarakat dan kaum buruh yang melakukan kecaman kepada pemerintah, tetapi juga mayoritas mahasiswa dan berbagai pergerakannya melakukan berbagai aksi sebagai konsekuensi kaum yang dianggap intelektual dan berpikir kritis.
Akan tetapi, sikap kritis tidak bisa tercapai sebelum berpikir secara komprehensif sebagaiamana berpikir (baca: berfilsafat) sebagaimana dikemukaan oleh Katsoff. Artinya, berbagai bentuk penolakan yang mengatakan bahwa kebijakan menaikan BBM adalah kebijakan yang menyengsarakan rakyat dan merupakan kebijakan liberalis yang menguntungkan pihak asing, sebenarnya belumlah benar jika belum bisa memberikan pencerahan kepada masyarakat sebagaiman sikap berpikir dengan ide kreatif tadi. Inilah yang menjadi perhatian, apakah benar tindakan ini adalah tanggapan kirits atau malah tanggapan sinis—hanya menyalahkan begitu saja.
Menengok sejarah perjalanan SBY dalam catatan harian Dino Patti Djalal, pada masa bulan madu kepresidenannya juga pernah mengambil keputusan sebagaimana kebijakan pemerintahan Jokowi-JK kali ini. Pada waktu itu, harga bensin masih sekitar Rp 1.800 per liter—harga BBM termurah di dunia pada saat itu. Subsidi BBM melonjak tinggi sampai 70 triliun. Ditambah lagi dengan defisit APBN 2004 membengkak dari Rp 26,3 triliun menjadi 38,1 triliun atau meningkat sebesar Rp 11,8 triliun. Pada saat yang bersamaan nilai tukar Rupiah melemah dan intensitas impor minyak pun tidak kunjung berkurang.
Akhirnya, dengan kondisi yang demikian SBY mengambil keputusan yang “nekat” dan sangat bersiko: menaikan harga BBM diatas 100%. Bensin ‘premium’ dari 2.400 menjadi Rp 4.500 (naik 87,5%), solar dari 2.100 menjadi 4.300 (104%), minyak tanah dari Rp 700 menjadi 2.000 (185,7%). Dalam hal ini Dino menjelaskan bahwa SBY berani kehilangan popularitasnya demi kepentingan ekonomi dan perlindungan rakyat kecil untuk kedepannya.
Dalam keputusan tersebut apakah SBY hanya memperhitungkan defisit APBN tanpa memperhatikan rakyatnya? Sementara itu, banyak pihak dari berbagai kalangan hanya mengecam bahwa kenaikan BBM menyengsarakan rakyat tanpa melihat dari berbagai sisi latar belakangnya. Pemikiran yang terjadi demikian sebenarnya bukan lagi berpikir kritis, melainkan sinis.
Penekanannya menjadi berbeda, jika kita menanyakan apakah yang menyebabkan kenaikan BBM, maka pemikiran ini adalah positif. Namun, jika kita langsung menyalahkan karena tidak sesuai dengan kehendak diri, tanpa mau tahu apa sebab dan latar belakangnya, itulah budaya sinis.
Beralih pada budaya berpikir kritis tidak akan lepas dengan budya kritik-mengkritik. Masalah kritik adalah masalah yang berkaitan dengan nilai dari nilai, evaluasi, atau penilaian yang memberikan nilai, atau masalah penciptaanya. Evaluasi diartikan sebagai bagian yang bersifat kritis sekaligus kreatif (Gilles Deleuze, 2002:1). Hal inilah yang menjadi penting untuk diperhatikan. Jangan sampai budaya berpikir kritis itu beralih pengertiannya menjadi budaya sinisme (culture of cynicism).
Bagi mereka yang menganggap bahwa kebijakan kenaikan BBM kali ini adalah representasi dari kebijakan liberalis yang menuruti pihak asing, sebaiknya lebih memperhatikan lagi apakah gagasannya dapat memberikan pecerahan dan solusi kepada masyarakat atau malah hanya mengarahkan orang lain untuk ikut-ikutan menyalahakan pemerintah.

Berpikir kritis bukan hanya mengecam, melainkan juga memberikan solusi yang efektif, implementatif dan representatif, bukan solusi yang jauh dan bertolak belakang. Hidup mahasiswa!

BUDAYAKAN JALAN KAKI


Permasalahan dunia kampus seakan tidak pernah habis dan akan selalu menarik untuk dibahas. Tidak hanya masalah akademik, tetapi juga permasalahan dunia luar: lingkungan pergaulan, ornganisasi, tempat tinggal, dan bahkan tempat parkir.

Thursday, 27 November 2014

REVIEW BUKU "Viral Marketing"

RESUME BUKU “VIRAL MARKETING ON STRATEGY”
MEMBANGUN MEGA BISNIS DENGAN KONSEP VIRAL MARKETING
(TUGAS PENGGANTI  UKD KWU I) 

Google+ Followers