Saturday, 30 November 2013

Kesan Pertama di TBJT


Kesan Malam Pertama di Panggung Taman Budaya Jawa Tengah
(TBJT)


            Sekilas berbagi cerita dan pengalaman tentang kelarifan budaya jawa di Solo. Semoga dapat memperkaya inspirasi dan pengetahuan teman-teman sekalian tentang masyarakat di kota Solo.
 Acara ini kebetulan aku kunjungi ketika melihat pamflet yang terpasang di depan pagar Taman Budaya Jawa Tengah di Surakarta. Sebelumnya, ketertarikanku untuk mendatangi pementasan ini adalah mencari objek-objek yang akan aku abadikan dengan kamera yang kebetulan sedang kupinjam saat itu. Akan tetapi, sesaat setelah menyaksikannya, ada perasaaan menarik yang membuatku menjadi terbangun untuk mengenali kesenian budaya jawa Solo yang lainnya.
            Ya, memang bukan pentas biasa, tetapi sebuah pertunjukan besar sebagai peng-expose semangat kebudayaan jawa di Solo. Pementasan wayang orang yang dipentaskan di Taman Budaya Jawa Tengah, Selasa, (22/10/2013) malam itu, mengindikasikan bahwa masyarakat Solo masih menjaga dan mencintai kebudayaannya sendiri. Tidak hanya orang tua dan dewasa yang hadir menyaksikan pentas tersebut, tetapi para kaum muda-mudi juga cukup banyak dan antusias dalam menghadiri kebersamaan acara tersebut.
Para kaum muda Solo begitu bersemangat dalam keikutsertaannya meramaikan pementasan pada malam itu. Hal ini membuat hatiku menjadi iri dengan anak-anak remaja Solo, dengan semangatnya dapat memberikan sumbangsihnya dalam melestarikan kesenian jawa di era modernisasi saat ini.
            Berhubung aku berada di Fakultas Sastra, aku sering bertemu dengan anak-anak di jurusan sastra jawa. Mereka juga begitu semangat dalam berperan menjaga kearifan budaya Solo. Apalagi ketika bergabung dengan UKM yang berpondasi pada culture jawa, semua yang berhubungan dengan kesenian seperti musik gamelan, drama, pewayangan, dan kebudayaan, akan mereka jaga dan pelajari dengan sangat baik. Sehingga tidak mengherankan jika dalam acara pementasan seperti ini, mereka banyak yang turut hadir.
            Oke, lanjut ke acara di TBJT Surakarta. Berhubung lokasi pementasan berada di depan kampus uns sebelah barat dan kosku berada di belakang, tepatnya di jalan Surya 3, aku datang ke lokasi dengan bersepeda. Tepat pukul 20.00 wib, aku sampai di lokasi. Sudah terlihat keramaian yang menyelimuti pojok-pojok panggung. Bersamaan para pemain mempersiapkan diri, para pedagang kaki lima pun turut melengkapi suasana di TBJT. Saat itu pula aku mempersiapkan kamera untuk siap menjepret orang-orang dalam panggung.
 Sampailah pada sekitar jam 21.30 wib lebih acara dimulai dengan beberapa pembacaan geguritan atau puisi dalam bahasa jawa. Kemudian dilanjutkan dengan pemaparan sedikit tentang jalannya cerita, dan seketika itu acara pun dimulai.
            Acara dimulai dengan diawali pembacaan geguritan. Sang moderator membacakan tema dari puisi atau geguritan yang akan dibacakan. Para wartawan, kameramen, fotoghraper dan aku sendiri pun mulai beraksi dengan kecanggihan dan ketrampilan kamera. Begitu juga dengan para pengunjung yang turut dalam mnengabadikan pementasan. Semua seakan tertuju pada satu panggung.
Hal ini membuat aku begitu terkesan dengan antusiasme para penonton dan warga dalam acara itu. Tidak seperti di daerahku, ketika terdapat acara-acara kesenian jawa seperti ini, pasti di dominasi oleh orang-orang tua dan dewasa. Akan tetapi berbeda dengan di kota Solo ini, kebanyakan malah para mahasiswa dan remaja. Walaupun demikian, banyak juga dari warga sekitar, para pejabat, dan para seniman yang turut hadir.
                       Acara pun dimulai dengan cerita alur maju. Saat itu, diceritakan bahwa kerajaan Gajah mada mengalami berbagai kecauan dan beberepa negara-negara bagiannya ingin melepaskan diri. Bersamaan dengan hal itu Gajah mada diamanahi untuk menjaga keutuhan dan kedamaian kerajaan Majapahit.
Seketika itu juga, penonton mulai memenuhi panggung. Aku pun pindah memposisikan diri ke paling depan. Walaupun duduk berlesehan, tetapi sangat nyaman dan enak untuk menikmati pertunjukan sambil mengambil gambar.

Ya, ini adalah adegan pertama yang paling menarik dan mengesankan. Aksi-aksi leluconnya sungguh membuat hangat suasana. Hal inilah yang menjadi daya tarik yang cukup kuat bagi para pengunjung TBJT saat itu. Tidak hanya itu saja, keterlibatan penonton juga membuat tawa riang pengunjung menjadi semakin tak terelakan.
Ketegangan semakin menjadi ketika terdapat konflik besar di kedua kerajaan. Hal ini memicu terjadinya peperangan antara kerajaan majapahit dengan kerajaan bawahannya yang melakukan pemberontakan dan ingin melepaskan diri dari Majapahit dan Gajah mada.
            Inilah adegan peperangan dengan aksi para prajuritnya yang cukup memukau penonton. Aku terkesan dan sangat kagum dengan mereka yang begitu lihainya dalam bertarung. Terlihat sangat berbahaya pada orang-orang awam, tetapi mereka begitu mudah dan profesional melakukan itu seakan benar-benar sedang berkelahi. Walaupun demikian, adegan itu tetap dilakukan dengan aman dan tidak berbahaya.
            Akhirnya peperangan dimenangkan oleh kerajaan majapahit. Akan tetapi, sang patih Gajah mada bersedih karena pasukan dan warganya banyak yang menjadi korban dan tewas dalam medan peperangan. Ditambah lagi dengan daerah-daerah nusantara yang masih terpecah-pecah dan saling berdiri sendiri. Hal ini membuat Gajah mada tergerak hatinya untuk menyatukan nusantara dan bersatu untuk menyatukan kekuatan. Pada saat itu pula Gajah mada bersumpah di hadapan kerajaan dan rakyat untuk terus berjuang menyatukan nusantara. Peristiwa itu dikenal dengan sebutan Sumpah Gajah mada atau sumpah Palapa.
Setelah itu, pertunjukan berakhir dan dilanjutkan dengan penghargaan kepada para pemain. Tidak terasa aku sendiri pun terbawa oleh suasana panggung ketika waktu telah menunjukan pertengahan malam. Walaupun demikian, para penonton tetap enggan untuk meninggalkan panggung.
Aku tidak mengetahui secara detail siapa saja yang berperan dalam panggung itu. Kebetulan acara ini adalah pertama kalinya aku kunjungi dalam beberapa acara yang digelar di Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) di Surakarta. Akan tetapi, itu semua adalah kesan pertamaku yang begitu dalam terhadap masyarakat Solo yang selalu mencintai dan melestariakan kesenian budaya jawa di Solo. 
            Satu lagi yang belum aku sampaikan adalah amanat yang terkandung dalam cerita. Pertunjukan itu mengisyaratkan kepada kita semuanya untuk mencintai kebudayaan kita sendiri. Karena kebanyakan dari kita pastinya telah masuk dalam dunia modern dan global, sehingga kebudayaan kita berpotensi untuk punah dan hilang. Jika bukan kita yang menjaganya, siapa lagi? Apalagi kalau direbut oleh bangsa lain yang tidak mempunyai hak, secara tiba-tiba mengakuinya. Hal ini tidak boleh didiamkan begitu saja. Bukankah begitu teman-teman?
            Selain itu, kita juga dituntut untuk membangunkan rasa nasionalisme kita kepada negeri tercinta kita. Sehingga kita dituntut untuk ikut serta berperan aktif dalam menjaga keteraturan daerah kita masing-masing. Janganlah kita hanya diam berpangku tangan, sedangkan kondisi bangsa kita sedang dilanda masalah dan krisis, baik masalah sosial, ekonomi, maupun budaya.
Oleh karena itu kawanku semuanya, marilah kita sumbangkan peran kita dalam membangun negeri ini. Apapun itu, yang penting berguna bagi bangsa yang besar ini. Tidak perlu besar dan wah. Akan tetapi cukup dengan kemampuan yang kalian miliki. Satu amal, satu solusi. Untuk ibu pertiwi.
Semangat!

By:MUSTAQIM_



No comments:

Post a Comment

Google+ Followers